Ruang Semu

... Orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu ... biarlah di ruang ini kita bermain saja dengan semu-nya kata-kata ... tanpa gambar, tanpa gaya ... hanya mengoceh soal-soal kehidupan yang terlalu banyak tidak kita ketahui ... kadang semuanya membuat putus asa ... hanya kata-kata semu jadi petunjuk ... tapi harus kita tuliskan apa adanya meski hanya sepenggal ... biarkan menjelma menjadi harap ... hingga pada suatu hari kita akan mengerti semuanya.

Name: teertage

Thursday, December 24, 2009

Further Explanation

Words have failing me for sometime because of this one.

Bidadari : Mengapa kau menulis ? Kenapa juga engkau sebut aku Bidadari.
Me : Untukmu.
Bidadari : ???
Me : I'll write it in the blog.

Setelah sekian lama ... hari-hariku ..

Di dalam bioskop selalu ada kursi kosong di sebelahku.
Di meja makan mesti ada kursi kosong di depanku.
Di dalam mobil ada saja kursi kosong.
Di kursi taman senantiasa kosong.
Setiap ada yang datang bertanya, "Mengapa?"
Aku spontan saja menjawab, "Untukmu!"

Friday, November 27, 2009

3 Years Updates Takes Another 3 Years?

Apa yang terjadi .. hah? Tiba-tiba seseorang setelah tiga tahun lamanya baru tersadar kalau dia punya blog yang sepertinya adalah catatan penting kehidupannya yang begitu intens dan intim. Bagaimana menjembatani gep tersebut saudara-saudara? 3 tahun = 3 X 365 hari .. Bagaimana Anda merangkumnya? Menuangkan aliran emosi dan gagasan yang berkesan.

Apakah butuh 3 tahun juga untuk menuliskannya .. 2012 dong haha ..

Labels:

Sunday, October 15, 2006

Rain, Please Falling on My Head

Hari ini saya berharap hujan akan turun. Saya kira sudah terlalu lama tak ada orang yang benar-benar berharap hujan akan turun. Sepanjang hari saya terus berharap dan berharap orang-orang akan berharap dengan sepenuh hati hujan akan turun. Biarkan hujan turun menetes di atas kepala ini dan meresapkan kesejukan alami. Lewat tengah hari hujan tak juga turun. Hanya mendung menggelayut di cakrawala.

Seperti blog ini yang rindu akan tetesan kata-kata setelah sekian lama ditinggalkan pemiliknya. Kemanakah hujan? Kemana sang pemilik blog? Tak ada jawaban yang sederhana dan pasti. Hidup ini begitu dinamis, hal-hal berubah seiring berputarnya bumi dan matahari. Kita hanyalah pasir yang terombang-ambing lautan waktu. Hingga kadang kita tak bisa melakukan apa yang ingin kita lakukan, kita tak bisa memiliki apa yang ingin kita miliki. Selamanya.

Lalu saya putuskan keluar rumah menyusuri jalanan kota Bandung. Ada toko buku baru yang membuat penasaran. Satu per satu saya perhatikan bangunan di jalan Purnawarman takut terlewat tempat tujuan. Dan akhirnya memang sedikit terlewat. Saya tiba di toko buku Toga Mas setelah hujan rintik-rintik membasahi kepala saya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tempatnya luas, koleksinya cukup lengkap, saya suka cara pengaturan ruangannya, seolah berada di rumah yang setiap ruangannya berisi buku dengan jenis berbeda dan memiliki daya tarik sendiri.

Saya membeli beberapa buku seperti Stiglitz tentang kebobrokan ekonomi dan globalisasi, buku tesis tentang bisnis telekomunikasi, ada juga buku psikotes dan buku tentang menulis. Agak lama di sana, serasa di gramedia tapi versi diskon. Setelah itu langsung ke Ultimus untuk menyapa kawan-kawan. Bertemu Hendra, Hakim yang rambut gondrongnya sudah dipangkas. Tak disangka bertemu Dhito sang disco(indisguise) star. Sempat juga ngobrol dengan Bilven soal penurunan gairah pasar buku akibat kenaikan harga-harga. Orang-orang sekarang enggan membeli buku. Selain akibat tekanan ekonomi mungkin juga akibat menurunnya minat baca dan perilaku konsumtif yang berkembang saat ini.

Hari ini hujan turun dan saya kembali menulis.

Sunday, June 25, 2006

Free-keun

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada panitia Les Voila yang sabtu 24 juni kemarin menghadiahi saya kaos distro ketat (too bad i'm not a girl) seharga rp 55 ribu dan lalu saya jual ke pacar teman saya seharga 25 ribu dan di bayar nanti ketika awal bulan.

Terima kasih kepada Sheath atas CD lee lou (cool 4 tracks) dan stiker-nya, apa yang kalian pikirkan waktu perform kemarin. Ada bubles, pahlawan bertopeng, seribu potongan kertas beterbangan, dupa yang saya kira ganja, bantingan gitar, dan vokalis yang tertidur di lantai dansa. Rasanya memang seperti itulah dunia yang kita impikan, bebas. Bebas seperti 13 band indie lainnya yang perform di Les Voila Fete dela Musique 2006 mulai jam 2 siang sampai sekitar jam 11 malam. Walau sang drummer sakit The Adams tetap main, meski cuma akustikan. Walau ada yang sudah veteran tapi tetap percaya diri perform di depan AiBG (anak indie baru gede). Walau personil tidak lengkap. Walau personil cabutan. Walau baru ditinggal personil dan ganti nama band. Dengan keterbatasan di sana-sini, panitia mulai dari sound, peralatan, security, sampai MC tetap memberikan yang terbaik meski penonton rada susah diatur, namanya anak indie. Walau personil Les Voila Group tinggal dua orang veteran. Walau deadline mengancam. Walau jalan sepi. The gig must go on. Dan semua terjadi. Bertambah lagi satu poster kenangan di kamar.

Free-keun atau bebaskeun lah ..

Terakhir dan sangat penting .. terimakasih buat kawan pejabat CD bajakan (boo, gembiboy, & partners). Akhirnya bisa juga mendengarkan risa dan deena mengalunkan romantic purple secara jernih. Thanx a lot for a really really addictive sound .. makes me wanna play in the river of joy ..

to : patspuluh & wongacid .. mudah-mudahan kita bisa berkumpul lagi suatu hari nanti .. (kalian jangan sedih yah, masih ada kok Les Voila selanjutnya hehe)

Hari yang aneh harus ditutup dengan ritual membuang sial. Maka saya putuskan mengadu keberuntungan di meja monopoli bersama teman-teman kost. Meski beruntung sampai masuk putaran final tapi saya akhirnya dipaksa menyerah karena hanya bisa memonopoli perusahaan listrik dan air yang ternyata nasibnya tidak jauh berbeda dengan PLN dan PDAM. Lalu kami lapar dan memutuskan membeli nasi kuning di Bale Endah yang buka 24 jam. Kalau penasaran, coba saja ke depan Rumah Sakit Al Ihsan di Bale Endah Bandung jam 3 atau 4 pagi. Ada bubur ayam juga. Jangan takut sepi. Jam segitu sudah mulai ramai, karena aktivitas pasar. Tak pernah terlintas kalau Bale Endah begitu hidup ketika subuh.

Saya sedang butuh keajaiban .. ada yang mau berbaik hati?

Wednesday, May 10, 2006

Who Do You Think You Are?

Saya tanyakan sekali lagi, Who Do You Think You Are?
Tanpa pretensi melecehkan tapi sebuah ajakan untuk merenungkan hal yang bagi sebagian orang mungkin sudah dianggap sepele. Tentang identitas diri.

Di jaman yang se-kompleks ini apakah cukup KTP untuk mewakili identitas seseorang? Tentu tidak, tapi KTP bisa sangat membantu kalau tiba-tiba Anda tertimpa musibah seperti hilang ingatan sementara dan tak ada yang tahu siapa Anda misalnya. Bagi aparat KTP jadi alat efektif untuk mengenali warga mana Anda dan kemana saja harus mencari kalau Anda berulah. Saya pribadi tidak bisa mengganti buku tabungan lama dengan yang baru ketika KTP saya habis masa berlakunya. Padahal sudah hampir dua bulanan mengajukan KTP baru tapi belum jadi karena katanya blankonya habis. Yang saya baca di koran Pikiran Rakyat juga sama, salah satu wilayah di jabar kehabisan blanko KTP akibatnya banyak warga tanpa KTP. Saya juga pernah mendengar percakapan dua orang mahasiswi soal KTP. Salah satunya dipaksa untuk membuat KTP baru karena menjadi pendatang padahal dia sudah punya KTP dari daerah asal dan surat keterangan menetap sementara. Sang mahasiswi berkilah masa dia harus punya dua KTP, itu kan melanggar hukum. Itulah seputar KTP .. yang tampaknya jauh lebih dipentingkan oleh birokrasi ketimbang manusianya sendiri.

Saya berharap siapapun Anda tidak melihat seseorang itu dari KTP, KTM, gelar, jabatan, pangkat, atau hal-hal lain yang bersifat simbolik semata. Simbolik dalam artian itu hanyalah sesuatu yang mewakili dari sebagian saja mengenai seseorang. Manusia jauh lebih kompleks dari itu semua. Kalau Anda melihat seseorang dari simbol itu semata maka Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari orang tersebut. Hanya data-data yang mungkin nantinya bisa Anda salah tafsirkan. Jangan paksa diri Anda untuk mengenali seseorang, tapi saya sarankan kenali seseorang dari cara dia mengekspresikan dirinya. Itu cara alamiah manusia mengenali sesamanya.

Itulah mengapa ketika kita berteman dengan seseorang kita tak pernah melihat KTP atau KTM terlebih dahulu. Hanya dari nama, lalu .. sisanya Anda sendiri tahu. Saya punya pengalaman ketika sabtu kemarin menonton konser group band indiepop asal Bandung yaitu Homogenic di gedung AACC. Rencana awal menonton bersama teman-teman yang kurang lebih setahun ini selalu bersama menghadiri acara semacam. Tapi tiba-tiba semua membatalkan diri. Saya masih berharap, saya pikir setidaknya bakal ada seseorang yang menemani, tapi ternyata menjelang detik terakhir batal juga. Jadi praktis saya sendirian. Di tempat tiket saya sempat ngobrol sebentar dengan panitia dan juga salah seorang MC Les Voila kemarin, jadi sempat terhibur sesaat. Gerbang dibuka 18.30, saya langsung masuk and guest what .. acara dimulai kurang lebih dua jam kemudian. Padahal ruangan sudah disesaki penonton, tapi ini bukan konser Radja, Samsons, atau bahkan Peter Pan yang besar kemungkinan sudah rusuh kalau harus menunggu sedemikian lama. Ini konser anak-anak muda yang meng-identitas-kan dirinya sebagai generasi independen yang bisa menghasilkan karya jujur berkualitas. Bukan sekedar hiburan semata, tapi juga sebuah karya yang layak diapresiasi secara elegan. Dua jam adalah waktu yang bisa dimaklumi mengingat ini saya kira adalah salah satu inisiatif penampilan band indie yang coba tampil dengan benar-benar profesional, semuanya benara-benar diatur sedemikian rupa, seperti layaknya film yang terskenariokan dengan baik. Hasilnya menurut saya mengagumkan. Bagi yang hanya menikmati musik saja mungkin kecewa karena waktu yang sesungguhnya panjang terasa sebentar. Tapi bagi mereka yang mengikuti perjalanan jalur indie dari gigs ke gigs .. bisa berkata we've made it together ..

Siapapun diri Anda, jangan pernah merasa kecil, jika termarjinalkan bangun mimpi Anda dari tangan kosong Anda sendiri .. seiring waktu akan Anda temukan kawan-kawan sejalan .. semakin kuat mimpi Anda .. semakin nyata ia jadinya. Just be your self .. but not a jerk okey!

Monday, May 01, 2006

Who's Next?

Pemuda Harus Melahirkan Pemimpin ..
Itu kata-kata Pram sewaktu dijenguk kawan-kawan di Rumah Sakit. Hanya gumam tapi yang mengerti tahu benar bahwa itulah yang coba diucapkannya. Pramoedya Ananta Toer sudah tiada dan siapapun yang pernah membaca atau mendengar perjuangan dan tulisannya tentu merasa kehilangan.
Kita semua berduka tapi tidak untuk terlena sedih, kita harus melahirkan pemimpin.

Seminggu ini otak saya terasa bebal dan selalu merasa galau, akibatnya apapun yang saya kerjakan tak pernah beres, mungkin itu sebuah pertanda. Sabtu pagi saya pergi ke blok M untuk cari buku di Gunung Agung sekalian memenuhi janji bertemu dengan kawan. Janji terpenuhi, buku tentang teori terjemah saya dapat. Kami lalu naik busway menuju monas. Sesudah itu naik busway lagi ke Gambir. (Ada yang tahu rute yang lebih baik dari Blok M ke Gambir?) Dari Gambir kami berniat ke Bandung untuk menghadiri Les Voila #6 April edition. Tapi masih menunggu kawan yang sedang training di Antara. Jam 14.25 kereta Parahyangan membawa kami bertiga ke Bandung. Sepanjang jalan saya tak pernah merasa nyaman, seolah berada di dunia lain. Saya lihat sepanjang jalan lepas dari Jakarta, langit biru, tanah subur, pepohonan hijau, sawah menghampar. Saya kecewa kenapa bangsa ini masih saja terjebak kemiskinan. Saya pikir ini juga sebuah pertanda.

Les Voila! atau artinya Nah Ini Dia! sebuah gigs/event indiepop yang saya pikir telah menjadi ikon indiepop di Bandung itu berlangsung sangat membludak meski sekarang harus bayar tiket 5.000 IDR. Harga yang sangat murah untuk menikmati aksi Perfect Angel, Sore, Astrolab, Tika, dan Goodnight Electric. Saya sendiri tak bisa begitu menikmatinya .. dulu mungkin bisa karena bisa duduk lapang dan tenang menikmati musik indiepop. Itulah yang menarik dari indiepop, kita bisa menikmati musik secara total. Hanya musik. Tapi sekarang .. tampak complicated .. sekelompok pemabuk amatiran mengacaukan suasana .. kenapa tidak menunggu sampai after party ..

Musik telah menjadi bagian menonjol dari peradaban manusia saat ini. Banyak pemuda yang terjun kesana. Saya juga tak begitu tahu kenapa. Saya masih mencari tahu. So far, yang saya tahu semuanya karena popularitas. Musik bisa membuat seseorang menjadi populer. Dan ketika populer ia bisa mendapatkan atau melakukan apa yang dia suka. Tapi ada juga yang memang mendapatkan jati dirinya di musik dan tidak terpengaruh oleh popularitas. Saya bukan pemusik tapi beruntung bisa mengenal dunia musik dari sisi yang berbeda. Meski pada akhirnya saya melihat benang merah bernama popularitas. Semua orang ingin populer. Mungkin begitulah dunia saat ini, dunia pop, dimana popularitas dan sensasi menjadi komoditas unggulan. Dimanakah kebenaran wahai pemuda?

Saya melihat beberapa pemuda yang tidak puas dengan sistem yang ada sekarang bergerak dalam jaringan subkultur-subkultur. Mereka merangkak dari bawah membentuk komunitas sendiri. Dari sini lahir pemimpin-pemimpin alternatif yang tangguh. Kalau mengandalkan sistem eksisting sekarang, Indonesia tak akan bisa melahirkan pemimpin revolusioner. Yang ada hanyalah perpanjangan tangan status quo. Saya juga melihat pemuda lain yang memiliki kelebihan dan fasilitas tak peduli dengan apa-apa kecuali dirinya sendiri. Saya cuma bisa berharap kekacauan ini cepat berakhir ..

.. entahlah .. terlalu banyak yang saya pikirkan .. tak tahu bagaimana mengungkapkannya ..

Hari minggu saya berdiskusi dengan beberapa kawan di toko buku. Seolah Pram masih hidup.
.. sesuatu yang membuat saya sedikit tenang ..

it's MAYDAY!

Sunday, April 02, 2006

Rollingstones

Ini bukan tentang majalah remaja. Tapi tentang perkawanan atau persahabatan. Belakangan ini hari-hari terasa begitu sepi. Malas untuk melakukan apa saja. Tanpa terasa terjebak dalam kesendirian. Tapi untung masih ada kawan yang mau menyapa dan meluangkan waktu ... jadi kepikiran untuk mencari cara bagaimana melawan kesepian. Mungkin ini berguna buat kawan-kawanku nantinya. Semua orang kan pasti suatu saat bisa merasa kesepian. Dan jadilah ..

Tips-tips mengusir sepi ...
  • kalau di kamar buka pintu lebar-lebar, siapa tahu nanti ada yang mampir atau mungkin sekedar menoleh .. setidaknya suara-suara dari luar seperti kicau burung, desir angin bisa mengurangi sepi ..
  • coba setel musik agak keras kalau masih terasa sepi, direkomendasikan lagu-lagu dengan beat menghentak dan ceria .. coba deh lagu-lagu disko atau trance .. hindari yang slow mellow dan bikin pusing .. itu mah sama saja bunuh diri ..
  • masih kurang? Nah coba ikutin irama .. berdendang dan bergoyang ..

Sangat mungkin sekali hal-hal di atas tidak berhasil, terutama kalau lagu-lagu yang Anda miliki cuma lagu-lagu patah hati dan mendayu sedayu-dayunya .. (oh my God) .. apalagi kalau ternyata Anda tak punya perangkat apapun untuk menyetel lagu .. (pliss dong ahh) ..

Baiklah saya akan berbaik hati memberikan tips tambahan ... (tapi nanti, mikir dulu ...)

(Bakal lama nih mikirnya .. jadi jangan ditungguin)